Tempat Wisata di Bali

1. GWK (Garuda Wisnu Kencana)

GWK adalah patung dewa Wisnu yang berdiri tegak di Bukit Ungasan, Jimbaran yang dibuat oleh seorang lulusan ITB bernama I Nyoman Nuarta. Patung ini diperkirakan akan mencapai tinggi 145 meter dan mengalahkakn tinggi patung Liberty, New York dan menjadi monumen tertinggi di dunia. Letak patung ini yang berada di ketinggian 300 meter di atas permukaan air laut ini menjadi landmark yang menyambut setiap orang yang menginjakkan kaki di Pulau Bali. Pembangunan patung ini sedang menghadapi beberapa kendala. Hingga saat ini, sejak patung ini di bangun dari tahun 1997 baru 15% selesai dibangun, yaitu patung Dewa Wisnu dan kepala garuda.

Akses : Jika anda dari bandara, maka jalur anda adalah Bandara Ngurah Rai – Nusa Dua – Universitas Udayana – GWK. Sekitar 15 menit dari Jimbaran.
Buka : 10.00 s.d 22.00
Fasilitas : Exhibition center, restoran, kolam bunga teratai, diorama, Giri Kencana Villa, amphiteater, dan trade and promotion center. Di tengah tebing-tebing kapur yang berada di ketinggian 300 meter di atas permukaan laut ini dibangun suatu arena konser, di mana tebing-tebing itu adalah tebing buatan dari sebuah bukit yang dipapras.
Tiket Masuk : Rp. 15.000 (Biaya parkir Rp. 5.000/mobil)

2. Museum Le Meyeur

Adrien Jean Le Mayeur De Merpes, seorang maestro pelukis asal Belgia pertama kali tiba di Bali pada tahun 1932 dan tinggal di Denpasar di mana ia bertemu seorang penari Legong yang kemudian menjadi modelnya.Keduanya akhirnya saling jatuh cinta dan menikah.Kemudian mereka membangun sebuah rumah yang dihiasi dengan dekorasi ukiran-ukiran kayu dan hiasan-hiasan terbuat dari batu yang berasal dari luar Bali. Seniman dari Belgia ini tinggal di Sanur sejak tahun 1935 di mana pada saat itu Sanur masih berupa desa nelayan yang sepi. Setelah ia meninggal, rumahnya diserahkan ke pemerintah Republik Indonesia untuk dijadikan sebagai museum. Koleksi lukisannya banyak dipamerkan di museum ini. Karya-karya lukisan yang dipamerkan tersebut antara lain koleksi lukisan yang ia buat pada saat pertama kali datang ke Bali, lukisan wanita Bali dan juga lukisan-lukisan pada saat ia melakukan perjalanan ke berbagai negara seperti Perancis, Italia, Afrika, India dan lain-lain.

Waktu tempuh : Sekitar 45 menit dari Nusa Dua dengan mobil.
Buka : Minggu s.d Kamis (08.00 s.d 15.00)
Jumat (08.00 s.d 13.00)
Sabtu (08.00 s.d 14.00)
Koleksi : Tidak kurang dari 10.506 buah, termasuk naskah, uang kepeng, keramik, dan porselen kuno.

3. Museum Bali

Museum Bali ini merupakan salah satu gedung tua yang masih utuh sampai saat ini di Bali. Letaknya di pusat kota Denpasar, tepatnya di sebelah timur Lapangan Puputan Badung, bersebelahan dengan Pura Agung Jagat Natha. Bangunan ini sudah ada tahun 1910, saat kapal Belanda KPM mendarat di Bali dan menurunkan turis, dan Bali mulai dikenal oleh masyarakat luar negeri. Namun, sejak itu banyak barang bersejarah dan prasejarah diboyong oleh para wisatawan asing itu.
Sejak saat itu, Mr. WFJ Kroon, asistant resident Bali & Lombok memberikan perintah kepada Mr.Curt Grundler untuk membentuk tim perencanaan museum dengan arsitektur Bali. Tim tersebut membangun museum dengan perpaduan antara arsitektur pura (tempat ibadah) dan puri (rumah bangsawan). Arsitek yang menangani hal ini adalah I Gusti Gede Ketut Kandel dari Banjar Abasan, I Gusti Ketut Rai dari Banjar Belong, dan Curt Grundler dari Jerman. Sedangkan dana yang dibutuhkan dibantu oleh Raja Buleleng, Tabanan, Badung, dan Karangasem. Saat pembangunan berlangsung, pada tahun 1917 Gunung Batur meletus, dan mengakibatkan sebagian bangunan hancur. Pada tahun 1932, bangunannya selesai dan dibuka untuk umum.
Pada museum Bali ini terdapat 3 paviliun utama yaitu Gedung Tabanan, Gedung Karangasem, dan Gedung Buleleng. Dengan konsep Tri Mandala yaitu nista mandala (bagian luar), madya mandala (bagian luar sebelum memasuki bagian inti), dan utama mandala (bagian inti). Selain itu terdapat bangunan yang disebut Bale Bengong (pojok depan bagian kanan) dan Bale Kulkul (pojok depan bagian kiri).

  1. Gedung Tabanan
    Paviliun yang berarsitektur khas Kabupaten Tabanan, tersimpan barang-barang purbakala, seperti benda-benda kesenian, aksesori, peralatan rumah tangga, peralatan upacara, dan bermacam-macam senjata tradisional.
  2. Gedung Buleleng
    Gedung berarsitektur gaya Bali Utara tersimpan alat-alat perlengkapan rumah tangga, alat-alat kerajinan, alat-alat pertanian dan nelayan, alat-alat hiburan, patung-patung primitif dari tanah liat, batu, dan banyak lagi.
  3. Gedung Karangasem
    Gedung berarsitektur gaya Bali Timur tersimpan benda-benda prasejarah, benda-benda arkeologi, etnografi, seni rupa serta beberapa lukisan modern.
Waktu tempuh : Sekitar 40 menit dari Nusa Dua.
Buka : Minggu s.d Kamis (08.00 s.d 15.00)
Jumat (08.00 s.d 12.30)
Fasilitas : Perpustakaan, Laboratorium, dan gedung pameran, serta terdapat kantin yang menjual makanan dan minuman untuk para wisatawan.
Koleksi : Tidak kurang dari 10.506 buah, termasuk naskah, uang kepeng, keramik, dan porselen kuno.
Tiket Masuk : Rp. 2.000,- untuk dewasa dan setengah harga untuk anak-anak.
Bawa kamera dikenakan biaya tambahan Rp. 1.000,-

4. Monumen Puputan Badung

Monumen ini terletak di pusat kota Denpasar di depan museum Bali di atas. Monumen ini berada di bagian utara Lapangan puputan yang dulu adalah medan pertempuran saat perang puputan Badung tahun 1906 waktu Belanda menyerbu Denpasar. Puputan ini berarti habis-habisan dan monumen ini dibangun sebagai tanda dan bentuk peringatan dan penghormatan kepada rakyat Bali yang berperang habis-habisan melawan Belanda demi membela kehormatan dan harga diri. Perang tersebut memakan korban sekitar 4000 orang beserta keluarga raja Denpasar. Saat ini, monumen ini menjadi saksi bisu kegiatan-kegiatan masyarakat Denpasar yang memadati Lapangan Puputan ini.

5. Monumen Bajra Sandhi

Bajra Sandhi ini juga merupakan monumen perjuangan rakyat Bali dan menjadi simbol penghormatan rakyat Bali terhadap para pahlawannya serta lambang semangat untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari 17 anak tangga yang ada di pintu utama, 8 buah tiang agung di dalam gedung monumen, dan monumen yang menjulang setinggi 45 meter.
Monumen ini terletak di depan kantor gubernur Bali yang mengekspresikan sebuah genta yang tinggi menjulang di tengah padma (seroja), lambang pertemuan lingga dan yoni yaitu sifat maskulinitas dan sifat femininitas yang akan melahirkan kesuburan dan kemakmuran. Bangunan ini menerapkan konsepsi Tri Mandala. Bagian utama mandala sendiri tersusun lagi atas tiga lantai, yaitu utamaning utama mandala (lantai teratas yang merupakan ruang ketenangan, tempat untuk menikmati pemandangan di sekeliling monumen); madyaning utama mandala (terpajang 33 diaroma yang menggambarkan peradaban manusia Bali dari zaman prasejarah hingga kemerdekaan dan juga dapat menikmati pemandangan sekelilingnya); dan nistaning utama mandala (lantai dasar gedung monumen yang memiliki ruang informasi, perpustakaan, pameran, pertemuan, administrasi, dan toilet serta terdapat kolam Puser Tasik di tengah ruangan dan tertancap 8 tiang agung serta tangga naik berbentuk bunga tapak dara/tanda tambah).

Waktu tempuh : Sekitar 40 menit dari Nusa Dua.
Buka : Senin s.d Jumat (08.00 s.d 16.30)
Sabtu, Minggu (08.30 s.d 16.30)
Tiket Masuk : Dewasa Rp. 3.000,-
Anak-anak Rp. 2.000,-

6. Monumen Puputan Klungkung

Monumen ini dibuat untuk mengenang dan menghargai jasa para pahlawan ksatria yang gugur dalam mempertahankan martabat bangsa dari cengkeraman kolonialisme Belanda. Monumen ini berbentuk lingga-yoni, yang didirikan di atas areal seluas 123 meter persegi, dilengkapi dengan 4 buah balai bengong pada sudut halamannya. Di bawah lingga terdapat ruangan yang besar serupa gedung persegi empat yang memiliki gapura sebanyak empat buah (penjuru mata angin). Monumen itu memiliki tinggi 28 meter dari dasar sampai ke puncak lingga, sedangkan antara gedung (ruang bawah) dengan lingga terdapat semacam bangunan kubah bersegi delapan yang dialasi kembang teratai sebanyak 19 buah. Semua ini berati tanggal 28 April 1908. Dan dalam ruangan terdapat diorama yang menggambarkan perjuangan raja dan rakyat Klungkung tersebut.

Waktu tempuh : Sekitar 1.5 jam dari Nusa Dua dengan mobil.
Buka : 07.30 s.d 17.00
Tiket Masuk : Termasuk tiket masuk Kerta Gosa (Istana Semarapura).

7. Museum Neka Ubud

Kita dapat menjumpai banyak museum seni terkenal di Ubud, salah satunya yang tidak asing lagi bagi para wisatawan Nusantara maupun mancanegara adalah Museum Neka. Museum Neka atau The Neka Art Museum didirikan oleh Suteja Neka pada tahun 1982. Museum yang terletak di jl.Raya Campuhan, Desa Kedewe- tan, Ubud ini mempunyai koleksi dari berbagai seniman baik seniman lokal maupun seniman asing yang tinggal di Ubud. Museum dengan luas 9.150 meter persegi ini terdiri atas beberapa bangunan dengan arsitektur Bali dan semua koleksi dipamerkan pada masing-masing bangunan tersebut.

Waktu tempuh : Sekitar 1.25 jam dari Nusa Dua dengan mobil.
Buka : 09.00 s.d 18.00
Tiket Masuk : Dewasa Rp. 10.000,-

8. Museum Arma

Museum ARMA atau yang juga dikenal dengan nama The Agung Rai Museum of Art dengan luas empat hektar ini dibangun oleh Agung Rai dan diresmikan oleh menteri pendidikan dan kebudayaan, Prof.Dr.Ing. Wardiman Djojonegoro pada tanggal 9 Juni 1996. Museum ini terletak di jl.Pengosekan, Ubud, Gianyar kurang lebih 20 km timur laut Kota Denpasar dan di bawah menejemen The ARMA foundation yang didirikan pada tanggal 13 Mei 1996. Museum ini banyak menyimpan karya-karya seni dari seniman lokal antara lain karya-karya dari lukisan gaya Kamasan, Raden Syarif Saleh Bustaman, I Gusti Nyoman Lempad, I Gusti made Deblong dan juga seniman asing diantaranya adalah karya-karya dari Walter Spies, Rudolf Bonnet, Le Mayeur, Willem Gerald Hofker dan lain-lain.

Waktu tempuh : Sekitar 1 jam dari Nusa Dua dengan mobil.
Buka : 08.00 s.d 18.00
Tiket Masuk : Rp. 25.000,-

9. Museum Antonio Blanco/The Blanco Renaissance Museum

Museum Antonio Blanco terletak di Campuhan, Ubud. Museum ini berlokasi di perbukitan tepat di atas sungai Campuhan yang mempunyai hawa sejuk dan udaranya segar. Museum ini mulai dibangun pada tanggal 28 Desember 1998 berada diatas tanah pemberian dari Raja Ubud, Tjokorda Agung Gede Sukawati. Don Antonio Maria Blanco atau yang lebih dikenal dengan Antonio Blanco adalah seorang pelukis keturunan Amerika dan Spanyol yang lahir di distrik Ermita, Manila, Filipina pada tanggal 15 September 1912. Sebelum datang ke Bali pada tahun 1952, Blanco telah berkeliling ke banyak negara dan pulau-pulau di Samudra Pasifik antara lain Jepang, Kamboja dan juga Hawaii. Karya-karya Blanco adalah seni kelas tinggi yang menggambarkan dan lebih menonjolkan keindahan wanita. Pada tahun 1953 Blanco bertemu dengan Ni Ronji, seorang wanita penari tradisional Bali yang menjadi model lukisannya dan kemudian menjadi istrinya. Antonio Blanco wafat pada 10 Desember 1999 pada umur 87 tahun, dan sekarang anaknya yang meneruskan ketenaran bapaknya.

Waktu tempuh : Sekitar 1 jam dari Nusa Dua dengan mobil.
Buka : 09.30 s.d 16.30
Tiket Masuk : Rp. 20.000,-

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: